Sewajarnya dan Sekadarnya saja, ya.

Menanggapi apapun yang datang padaku juga aku terima, dengan sewajarnya saja, tidak menaruh harap maupun ekspektasi. Ketidaktenangan hidup dan terkadang luka bisa saja hadir karena dibutakan oleh ekspektasi, dan dikagetkan oleh realita. Jadi, ada baiknya sewajarnya dan sekadarnya saja yaa.

Sebab yang datang akan tetap datang, meski ada yang mencoba memutus dan tidak memberinya jalan, ia akan tetap bertemu pada apa yang ditakdirkan. Tak bisa dimungkiri yang pergi pun akan tetap pergi, sekuat apapun mengikatnya juga memikatnya, ia tetap tidak mendapatkan apa yang tidak ditakdirkan untuknya.

Belajar dari pengalaman dan alur kisah hidup menyadarkan diri ini bahwa setiap pertemuan belum tentu bisa sejalan, karena terkadang lewat pertemuan itu akan mengajarkan kita sesuatu hal yang diluar dugaan, hal – hal baik yang menemani kita bertumbuh menjadi manusia pembelajar dan berproses menjadi lebih baik. Melalui pertemuan-pertemuan yang pernah terjadi, sepertinya petanda rangkaian kebaikan dari Maha Baiknya Allah.

Kini waktunya belajar berteman dengan diri sendiri, apa saja yang pernah terjadi di masa lalu beserta kesalahannya sebagai bekal untuk menyadarkan diri mana yang benar. Dan belajar soal ikhlas, sebab semuanya milik Allah, mudah baginya membolak-balikkan keadaan dan rasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *