Sebuah Pengingat bagi Kami, Para Musafir

Berkuda / Sumber: Pixabay

“Apa yang diberi dengan hati, akan diterima dengan hati” kalimat menenangkan yang memacu saya untuk berbuat yang terbaik.

Elingo sliramu marang embun enjang kang prasejo, kang nganti sliramu tumekaning cahyo…”

Waktu dhuhur itu, aku bertemu dengan Ching untuk menagih janji cerita yang dijanjikan kawan tersebut beberapa hari yang lalu. Kami sama-sama sibuk, oleh kegiatan yang entah apa maknanya dikemudian hari. Lalu aku bersandar di pondasi emperan Surau, lelah sekali rasanya melakukan sesuatu berulang dan berulang tiap harinya.

Ternyata, keresahan kami sama. Kami berada dalam sebuah persimpangan, dihadapkan sebuah keputusan yang hanya dimengerti kami berdua. Dan dari pertemuan di hari itu menyadarkan kami, jika kita semua adalah Musafir di perjalanan kehidupan kita masing – masing. Juga Musafir cinta yang akan bertemu di ujung jalan.

Sembari mengunyah kacang polong, aku hirup kembali memoriku selama menjadi penghuni Jagat Raya. Seketika aku merasa hilang semangat dan tidak ingin melakukan apapun, lalu bergegas mengatur ritme sepelan mungkin supaya Ching merasakan ketenangan dan kedamaian.

Aku dan Ching adalah korban dari rayuan penghuni Jagat raya tengah berjalan menjadi musafir yang sedang belajar untuk menjelajahi Jagat Raya, Aku dan Ching sedang menanti bimbingan ke jalan petunjukMu. Aku adalah Ching, Ching adalah aku.

Bersambung…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *