Rezeki Hanya dari Gaji?

Dulu sebelum aku merenungkannya dan menelisik lebih jauh, aku pikir rezeki itu yaa gaji yang aku terima dan rezeki itu berupa uang.

Normal dan wajar kali yaa, aku yakin yang berpikiran sama denganku pasti tidak sedikit. Bahkan tiap berdoa meminta dilancarkan dan dilimpahkan “rezeki” rezeki yang kita maksud itu berupa uang, hayoo ngaku aja deh sama diri.

Perihal itu wajar sih, dalam hidup kita harus memenuhi kebutuhan dasar terkait material, misalnya kebutuhan pokok kita sebagai manusia dalam menjalani kehidupan. Ada juga kebutuhan-kebutuhan lain yang di situasi tertentu juga harus memenuhinya. Semua itu bisa dipenuhi kalau kita punya uang, betul apa betul? Itulah mengapa jangan bilang uang enggak penting. Uang itu penting.

Aku mau cerita, semoga cerita yang aku tulis ini bermanfaat bagi kita semuanya.

Suatu saat ada seseorang yang masih kuliah, dia dapat uang jajan dari freelance dan juga bisnisnya. Waktu itu sih baginya pemasukannya lumayan karena bisa buat membayar UKT akhir semester dan biaya hidupnya di perantauan, selebihnya untuk traveling dan kebutuhan lain. Nah, setelah lulus dia memilih untuk bekerja di kantor agar lebih produktif. Menjadi freelance dan mengelola bisnisnya membuat aktivitasnya tidak teratur. Ketika dia kerja, bisnis yang biasanya dikelola olehnya diamanahkan ke orang lain, jadi yaa kayak bagi hasil gitu. Sekilas kita pasti mikirnya pendapatan orang ini pasti semakin double dong, tapi kenyataan yang dia jalani enggak seperti yang dipikirkan. Kisaran pendapatannya masih sama, enggak semakin melejit.

Ada lagi cerita seorang karyawan yang gajinya dikurangi, setelah itu porsi pekerjaannya juga mulai dikurangi. Enggak seperti sebelumnya yang tiap pulang kerja masih tergopoh-gopoh mengerjakan kerjaannya, hingga waktunya bersama keluarga enggak banyak dan sering ada perselisihan dengan keluarganya. Setelah dikurangi gajinya ada keajaiban yang mulai terjadi, keluarganya membaik, ekonominya membaik, semuanya baik – baik saja dan serba kecukupan. Terkadang juga dapat project dari luar yang tidak menyita banyak waktu.

Dari cerita perjalanan kehidupannya, aku coba renungkan dan telisik lebih dalam. Aku jadi sadar bahwa rezeki itu tidak hanya dari gaji, rezeki bisa jadi dari arah yang tidak disangka-sangka, bukan hanya dari gaji semata. Misalnya setiap ada kebutuhan terpenuhi, rezeki itu bisa berupa waktu, ada kegiatan diberi kesehatan, saat terhimpit ada yang menolong dan sebagainya.

Kalau hitungannya hanya gaji, kita akan hidup dalam kecemasan. Apabila kita yakin tentang rezeki, maka Allah akan mencukupkan. Dan berapapun yang didapat akan menjadi berkah dan hidup lebih tenang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *