Ke(tidak)puasan Terasa Mengganjal

Dalam hidup selalu ada keputusan yang diambil. Dengan keputusan itulah bisa menentukan takdir kita. Tetapi stereotip masyarakat membuat kita merasa ada sesuatu yang mengganjal.

Sedari kecil secara tidak langsung kita sudah dikenalkan orang tua mengenai pencapaian target yang telah melekat dalam kehidupan bermasyarakat, seperti saat kita masih sekolah Taman Kanak-kanak kita dituntut untuk sebisa mungkin bisa membaca, berhitung dengan lancar, lalu saat dibangku sekolah dasar semakin bertambah tuntutannya. Misalnya harus pintar matematika, mendapatkan nilai yang bagus, dan mendapatkan ranking paling tidak 10 besar di kelas. Ketika lulus kuliah, orang tua mengharapkan anaknya menjadi PNS, atau bekerja di kantor yang ternama. Hingga akhirnya muncullah perasaan bahwa ada sesuatu mengganjal yang disebabkan dari ketidakpuasan.

Kita akan semakin terbiasa dengan pemikiran yang tidak puas atas apa yang telah kita capai hingga usia kita dewasa, atau berlanjut saat diri kita sendiri yang menjadi orang tua. Akhirnya ketidakpuasan akan kondisi diri terwariskan turun temurun pada keturunan kita. Walaupun pemikiran tidak mudah puas memang diperlukan, lantaran selama hidup kita mengalami kondisi yang berubah-ubah. Kita harus bisa survive dengan kondisi itu. Karena merasa cepat puas dengan satu titik pencapaian pun akan membuat kita merasa bosan atau jenuh dengan kehidupan.

Ketidakpuasan bisa membuat kita terasa ada yang mengganjal dan cepat puas pun pada suatu kondisi membuat kita merasa bosan. Jadi apa sih sebenarnya tujuan kita?

Kemungkinan pemikiran ketidakpuasan yang terasa mengganjal karena kita tidak merasa bahagia atas apa yang telah kita capai. Kita melakukan sesuatu hanya untuk mengikuti stereotip masyarakat bahwa orang sukses adalah yang mencapai level yang telah menjadi standar masyarakat. Mengabaikan apa yang sebenernya kita inginkan yang mungkin membuat diri kita bahagia.

Terkadang kita perlu mengabaikan standar level masyarakat dan melakukan hal yang sesuai dengan keinginan kita. Lalu, berdiam sejenak menikmati yang telah kita capai, agar kita merasa bahagia dan puas.

Dalam film seri What/If karya Mike Kelley, terdapat dialog tokoh Anne yang berkata;

“untuk bisa mencapai kesuksessan parnipurna, kau harus bersedia membuat pilihan-pilihan sulit, bersusah diri, mempertaruhkan asetmu yang paling berharga, dan menyingkirkan belenggu yang dirancang masyarakat”

Dari dialog tersebut menyatakan bahwa jika kamu ingin mencapai kesuksesan, singkirkan belenggu standar masyarakat. Tetapi ikutilah kata hatimu dan lakukan sesuai yang kamu inginkan. Jangan melupakan untuk sejenak bersyukur menikmati yang kamu capai untuk menghargai dirimu yang telah membawa dirimu mencapai tujuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *