Amanat Raja Sunda Rakeyan dalam Naskah Galunggung untuk Masa Kini

naskah-kuno-sunda

Sebagai bentuk keprihatinan atas pesta politik tahun ini, sepertinya penggalan isi dari Naskah kuno Amanat Galunggung,nasihat-nasihatnya masih relevan sih dengan kondisi saat ini.

Di suatu malam yang hening, mencoba mencerna baik postingan tentang kebijakan-kebijakan yang akan diterapkan salah satu pasangan calon presiden, rasanya hampir tak tahan untuk membayangkannya, aduh bagaimana kalau pasangan ini yang jadi, pikir saya, kok saya was was ya. 

Mencoba mencari harta karun tersembunyi dibalik katalog online Manuskrip, saya tak menduga akan menemukan Naskah Amanat Galunggung. Momennya tepat, mengingat isi dalam manuskrip ini tentang nasihat-nasihat sosial bermasyarakat dan nilai-nilai kepemimpinan. Saat ini, ketertarikan masyarakat terhadap pesta politik sedang mencapai puncaknya, karena postingan bombastis media massa.

Menjajal menggali lebih dalam ternyata di dalam naskah ini ada yang berbunyi bahwa salah satu perbuatan yang dilarang untuk dilakukan adalah berebut kedudukan, berebut penghasilan dan berebut hadiah.

Bunyinya seperti ini;

“Jagat daranandi sang rama, jagat kreta di sang resi, jagat palangka di sang prabu” 

Sang Rama (tokoh masyarakat) bertanggung jawab atas kemakmuran hidup; sang Resi (cerdik pandai, berilmu), bertanggung jawab atas kesejahteraan; sang Prabu (birokrat) bertanggung jawab atas kelancaran pemerintah). 

“Haywa paala-ala palunggungan, haywa paalaala pameunang, haywa paalala demakan, apan pada pawitanya, pada mulianya, maka pada mulianya, ku ulah sabda, (ku) ambek”

Jangan berebut kedudukan, jangan berebut penghasilan, jangan berebut hadiah, karena sama asal-usulnya, sama mulianya. oleh karena itu bersama-samalah berbuat kemuliaan dengan perbuatan, dengan ucapan, dan dengan itikad.

Naskah ini ditemukan di daerah Kabuyutan Ciburuy, Kabupaten Garut. Naskah ini diperkirakan ditulis pada abad ke-16 atau sekitar tahun 1518. Menggunakan media daun lontar dan nipah sebanyak 6 lembar, terdiri atas 13 halaman, ditulis menggunakan bahasa dan aksara Sunda Kuna. Saat ini naskah disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta, dengan nomor kode MSA (Manuschrift Soenda A) Kropak 632.

Naskah Amanat Galunggung berisi nasihat-nasihat Rakeyan Darmasiksa kepada putra dan keturunannya. Rakeyan merupakan seorang Raja Sunda yang diperkirakan memerintah sampai ke-13 atau berkisar antara tahun 1175-1297 M. Naskah ini baru ditulis abad ke-16 artinya dapat dipastikan jika naskah ini hasil transliterasi dari nasihat tutur yang disampaikan secara turun temurun.

Ternyata pendidikan karakter sudah ada sejak lama, nilai-nilainya tersimpan dalam budaya masyarakat. Salah satu bentuk kearifan lokal berupa pemikiran dan gagasan mengenai sikap, perilaku dan kehidupan sosial bermasyarakat dapat kita jumpai pada naskah Amanat Galunggung. 

Naskah Amanat Galunggung juga membahas beberapa hal. Pertama, apa kita harus menghargai para leluhur dan orang-orang terdahulu yang telah meletakan ajaran dan nilai-nilai luhur. Kedua, bagaimana kita harus berbakti kepada keluarga dan berbuat baik dengan sesama. 

Naskah ini juga memuat nilai-kepemimpinan yang dianggap baik dan harus dimiliki Raja dan keturunannya. Bunyinya seperti ini “Jagat daranandi sang rama,jagat kreta di dang resi, jagat palangka di sang prabu” (Sang Rama (tokoh masyarakat) bertanggung jawab atas kemakmuran hidup; Sang Resi (cerdik pandai, berilmu) bertanggung jawab atas kesejahteraan; Sang Prabu (birokrat) bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan).

Haywa paala-ala palungguhan, haywa paalaala pameunang, haywa paalaala demakan, apan pada pawitanya, pada mulianya, maka pada mulianya, ku ulah ku sabda, (ku) ambek“, (Jangan berebut kedudukan, jangan berebut penghasilan, jangan berebut hadiah, karena sama asal-usulnya, sama mulianya. Oleh karena itu bersama-samalah berbuat kemuliaan dengan perbuatan, dengan ucapan, dengan itikad).

Adapun ajaran yang tertuang dalam Naskah Amanat Galunggung, di dalamnya memuat nasihat yang berbunyi:

“Mulah pabwang pasalahan paksa, mulah pakeudeukeudeu, asiy ra(m)pés, cara purih, turutan mulah keudeu di tineung di manéh, isos-iseukeun carékna patikrama, mulah munuh tanpa dwasa, mulah ngarampas tanpa dwasa, mulah midukaan tanpa dwasa, mulah nenget a(s)tri sama astri, mulah nenget hulun sama hulun. Di tineung di manéh hamo ngadéngé carék i(n) dung lawan bapa, hamo ngadéngé carék na patikrama wwang keudeuanakéh, Dina uran sakabéh, tuha kalawan anwam, mulah majar kwanta, mulah majar lak(s)ana, mulah madahkeun pada janma, mulah sabda ngapus. Bwat si mumulan, si ngeudeuhan, si banteuleu, dungkuk peruk, supenan, jangkelék, rahéké, mémélé, brahhélé, sélér twalér, hantiwalér, tan bria, kuciwa, rwahaka, jangjangka, juhara, hanteu di kabisa, luhya mumulan, mo teu(ng) teuing, manggahang, barang-hual, nica mreswala, kumutuk pregutu, surahana, sewekeng, pwapwarosé, téréh kasimwatan,

téréh kapidéngé, mwa teteg di carék wahidan, sulit rusit, rawaja papa. mumulan sangkana réya kahayang, hanteu di imah di manéh, ménta twah ka sakalih, ménta guna ka sakalih. Hanteu dibéré ksel hatinya, jadi nelu(h), pamalina iya dwakan iya jangjitan ngaranya, kajajadiyana na urang hiri paywagya di nu bener. Na gusti, na panghulu, na wiku sakabéh salah paké, na raja sabwana salah paké, beuki awor-awur tanpa wastu ikang bwana”

“Jangan bentrok karena berselisih maksud, jangan saling berkeras, hendak rukun dalam tingkah laku dan tujuan.

Ikuti, jangan hanya berkeras pada keinginan diri sendiri saja.Jangan membunuh yang tidak berdosa, jangan merampas hak orang lain, jangan menyakiti yang tidak bersalah, jangan saling mencurigai. Berkeras kepada keinginan sendiri, tidak mendengar nasihat ibu dan bapak, tidak mengindahkan ajaran patikrama, itulah contoh orang yang keras kepala. Bagi kita semua, tua dan muda, jangan berkata dengan berteriak, jangan berkata menyindir, menjelekkan sesama orang, dan berkata mengada-ada. Perlu diketahui bahwa yang menghuni neraka adalah arwah pemalas, keras kepala, pandir, pemenung, pemalu, mudah tersinggung, lamban, kurang semangat, gemar tiduran, lengah, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian, mudah kecewa, keterlaluan, sok jagoan, mudah mengeluh, malas, tidak bersungguh-sungguh, pembantah, selalu berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya omongan orang, tidak teguh memegang amanat, sulit, rumit mengesalkan, aib dan nista. Orang pemalas tetapi banyak keinginan yang tidak tersedia dirumahnya lalu meminta belas kasihan pada orang lain. Bila tidak diberi maka kesal hatinya. Orang pemalas seperti air di daun talas, plin plan namanya. Kesemrawutan dunia ini karena salah tin‹ para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, orang kaya, semuanya salah bertindak termasuk para raja di seluruh dunia.

Berdasarkan amanat-amanat itu, cukup menjadi pengingat bagi pemimpin masa kini dan yang akan datang. Penanaman nilai-nilai dasar dalam amanat Galunggung ini dijadikan sebagai salah satu upaya preventif dalam menekan permasalahan yang berkaitan dengan moralitas dan integritas.

Warisan moral Raja Sunda Rakeyan takkan terlupakan dalam waktu dekat. Sebagai penemuan filologi, dia abadi.

1 tanggapan pada “Amanat Raja Sunda Rakeyan dalam Naskah Galunggung untuk Masa Kini”

  1. Wow, wonderful blog format! How lengthy have you ever been running a
    blog for? you made running a blog look easy. The whole glance of
    your website is fantastic, let alone the content material!
    You can see similar here e-commerce

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *